Kok Bisa Harga Emas Perlahan Menanjak? Coba Cari Tahu Disini

wartabeta.com – Harga emas naik perlahan-lahan di tengah masih adanya harapan pelonggaran kebijakan suku bunga di Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (8/12/2022) pukul 06: 18 WIB, harga emas dunia di pasar spot berada di US$ 1.787 per troy ons. Harga emas menguat tipis 0,04%.

Penguatan emas pada hari ini memperpanjang tren positif sang logam mulia. Pada perdagangan Rabu (7/12/2022), harga emas menguat 0,86% ke posisi US$ 1.786,22 per troy ons. Pada hari Selasa (6/12/2022), emas juga menguat tipis 0,14%.

Dalam sepekan, harga emas melemah 0,88% secara point to point. Dalam sebulan, harga emas masih melonjak 6,7% sementara dalam setahun menguat 0,28%.

Analis dari OANDA Edward Moya menjelaskan penguatan tipis-tipsi emas dibantu oleh melandainya dolar AS. Indeks dolar melandai 0,45% pada penutupan perdagangan kemarin ke posisi 105,1. Dolar AS melemah karena pelaku pasar masih berharap bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan melonggarkan kebijakan moneter agresifnya.

Optimisme pasar ini muncul karena The Fed akan mempertimbangkan dampak buruk dari kebijakan moneter agresifnya yakni resesi.

“Kekhawatiran resesi membuat pelaku pasar berharap The Fed akan melonggarkan kebijakan. Karena itulah, dolar AS melemah,” tutur Moya, dikutip dari Reuters.

Sepanjang tahun ini, pergerakan emas sangat terdampak oleh kebijakan suku bunga The Fed. Kenaikan suku bunga The Fed melambungkan dolar AS sehingga emas tidak menarik karena makin mahal.

Pada awal pekan, emas melemah setelah data non-farm payroll masih kencang. Masih bagusnya data tersebut menjadi sinyal jika ekonomi AS masih baik-baik saja sehingga laju inflasi masih kencang. Kondisi ini bisa membuat The Fed memperpanjang kebijakan agresifnya.

Namun, sejumlah lembaga multinasional mengingatkan jika kebijakan ketat the Fed akan membuat AS terseret ke jurang resesi. Hal ini kembali menimbulkan optimisme pasar jika The Fed akan mengerem kebijakan ketatnya.

“Bagaimanapun gerak emas akan lebih dihadapkan pada downside risk daripada upside risk menjelang rapat The Fed,” tutur analis AirGuide, Michael Langford.

The Fed akan menggelar rapat pada 13-14 Desember mendatang.

TIM RISET CNBC INDONESIA

error: Content is protected !!