Tak Berkategori  

Kematian Mahsa Amini yang Mengguncang Dunia

wartabeta.com – Kematian seorang perempuan Iran bernama Mahsa Amin i pada 2022 mengguncang dunia. Sebab, kematian Amini ini memicu protes besar-besaran di negeri seribu mullah itu.

Sebagaimana diketahui, Amini yang berusia 22 tahun, meninggal dunia pada Jumat (16/9/2022) lalu setelah ditahan oleh polisi moral di Teheran karena dianggap melanggar aturan hijab. Kepolisian menyebut Amini ditangkap pada 13 September karena mengenakan ‘pakaian yang tidak pantas’.

Otoritas Iran juga menyebut Amini tiba-tiba pingsan di tahanan dan jatuh koma hingga dirawat selama tiga hari di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.

Namun publik menduga Amini meninggal usai mendapat perlakuan kasar dari polisi. Polisi moral Teheran telah membantah laporan yang menyebut personelnya memukul kepala Amini dengan tongkat atau membenturkan kepalanya ke mobil polisi.

Kematian Mahsa Amini ini pun mendorong ratusan orang melakukan aksi protes. Dirangkum, Jumat (6/1/2022) berikut ini kilas balik kematian Amini yang mengguncang dunia.

Lihat video ‘Iran Sindir Negara Barat yang Ikut Campur Polemik soal Hijab’:

Apa dampak dari kematian Amini? Baca halaman selanjutnya.

Kematian Amini mendorong ratusan orang untuk turun ke jalan demi menyampaikan protesnya. Namun, protes ini malah berujung ricuh.

Puluhan orang, kebanyakan demonstran meskipun ada juga personel keamanan, tewas dalam kerusuhan yang pecah saat unjuk rasa terjadi. Ratusan orang lainnya, termasuk para wanita, ditangkap terkait aksi protes di berbagai wilayah.

Polisi Iran dilaporkan menembaki pengunjuk rasa di Saqqez, kota asal Mahsa Amini–perempuan yang tewas setelah ditangkap polisi moral karena diduga mengenakan jilbabnya “secara tidak benar.

Ribuan orang berkumpul di sekitar makam perempuan Kurdi itu tepat 40 hari sejak kematiannya, lalu bentrok dengan aparat keamanan.

Sebuah kelompok hak asasi manusia serta saksi mata mengatakan polisi menembakkan peluru tajam dan gas air mata ke arah massa di kota itu.

Selain itu, tindakan represif aparat Iran ini juga membuat Amerika Serikat dan Eropa mengecam negara itu.

Sementara itu, pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyebut kerusuhan dalam unjuk rasa memprotes kematian wanita muda Mahsa Amini dalam tahanan polisi moral sebagai aksi yang direncanakan. Khamenei menuduh Amerika Serikat (AS) dan Israel telah mengobarkan kerusuhan di Iran menyusul kematian Amini.

Itu menjadi komentar pertama yang disampaikan Khamenei soal kematian Amini dan unjuk rasa besar-besaran yang dipicunya. Demikian seperti dilansir Reuters dan AFP, Senin (3/10/2022).

Khamenei dalam pernyataannya yang dilaporkan media pemerintah Iran, menyatakan bahwa kematian Amini ‘sangat menghancurkan hati saya’. Dia juga menyebut kematian Amini sebagai ‘insiden pahit’.

Namun Khamenei juga menyatakan ‘beberapa orang telah memicu ketidakamanan di jalanan’. Disebutkan oleh Khamenei bahwa ada ‘kerusuhan-kerusuhan’ yang direncanakan, namun itu tidak direncanakan oleh ‘warga biasa’.

“Saya mengatakan dengan jelas bahwa kerusuhan-kerusuhan dan ketidakamanan ini didalangi oleh Amerika dan rezim pendudukan Zionis yang palsu, serta para agen bayaran mereka, dengan dengan bantuan beberapa pengkhianat Iran di luar negeri,” sebut Kamenei dalam pernyataannya.

Otoritas Iran pun menegaskan hasil penyelidikannya yang menunjukkan Mahsa Amini meninggal karena sakit bukan karena dipukuli aparat seperti yang dirumorkan.

Dalam laporan pada Jumat (7/10) waktu setempat, Organisasi Forensik Iran menjelaskan hasil penyelidikannya atas kematian Amini.

“Kematian Mahsa Amini tidak disebabkan oleh pukulan di kepala dan organ-organ vital dan anggota tubuh,” demikian pernyataan Organisasi Forensik Iran.

Setelah itu, negara-negara anggota Uni Eropa pada Rabu (12/10/2022) menyetujui sanksi baru terhadap Iran atas tindakan keras negara tersebut, berkaitan dengan aksi protes atas kematian Mahsa Amini.

Protes ini juga disampaikan oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. “Perempuan Iran pemberani menuntut kebebasan dan kesetaraan, nilai-nilai yang diyakini dan harus diperjuangkan Eropa. Kekerasan harus dihentikan. Perempuan harus bisa memilih.”

Tidak ada rincian spesifik tentang sanksi yang mungkin dikenakan, tetapi kantor berita AFP dan EFE mengatakan bahwa kesepakatan telah dicapai di antara para diplomat UE dan akan diratifikasi pada pertemuan menteri luar negeri berikutnya yang akan diadakan di Luksemburg pada hari Senin (17/10).

Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada telah secara terpisah menargetkan sektor keamanan rezim Iran sebagai bagian dari sanksi mereka terhadap Republik Islam setelah kematian Amini.

Di antara mereka yang dikenai sanksi oleh Amerika Serikat adalah Menteri Dalam Negeri Iran Ahmad Vahidi dan Menteri Komunikasi Eisa Zarepour, serta lima pejabat lainnya. Presiden AS Joe Biden mengatakan Washington akan meningkatkan tekanan pada pejabat Teheran terkait dengan kekerasan terhadap pengunjuk rasa.

Ada ratusan demonstran yang ditangkap. Bahkan, pengadilan di Teheran, Iran telah memvonis 400 orang dengan hukuman penjara hingga 10 tahun atas keterlibatan mereka dalam aksi-aksi protes yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini.

Para pejabat pemerintah Iran menyebut aksi-aksi demo itu sebagai “kerusuhan”.

“Dalam sidang kasus-kasus perusuh di provinsi Teheran, 160 orang dijatuhi hukuman antara lima dan 10 tahun penjara, 80 orang dijatuhi hukuman dua hingga lima tahun dan 160 orang hingga dua tahun,” kata kepala pengadilan Teheran, Ali Alghasi-Mehr, dikutip dari website kehakiman Mizan Online.

Tak hanya memenjarakan para demonstran. Iran juga telah mengeksekusi dua demonstran yang divonis hukuman mati karena membunuh dan melukai aparat.

Kedua demonstran itu adalah Majid Reza Rahnavard dan Mohsen Shekari. Mereka dihukum mati dengan digantung. Otomatis eksekusi ini juga memicu protes dunia.

Hingga kini, protes yang terinspirasi oleh kematian Amini ini terus berlangsung. Iran pun terus mendapat kecaman dari negara-negara di dunia karena telah dianggap melakukan pelanggaran HAM.

error: Content is protected !!