Tak Berkategori  

Fenomena Bayi Mata Satu di Yaman Ternyata Cacat Medis Langka, Pernah Terjadi di Sumatera Utara

wartabeta.com – Fenomena bayi bermata satu di Yaman ternyata dapat dijelaskan secara medis . Kondisi langka tersebut dinamai dengan cyclopia alias bentuk langka dari holoprosencephaly ( cacat otak janin ).

Sederhananya, kondisi ini merupakan kelainan bawaan atau cacat lahir yang ditandai dengan kegagalan prosencephalon embrionik untuk membagi orbit mata dengan benar menjadi dua rongga.

Dilansir dari laman Babymed, kelain ekspresi wajah ini merupakan kondisi paling parah dari sindrom holoprosencephaly.

Sebelumnya, kelahiran bayi laki-laki bermata satu dari rahim seorang ibu bernama Zahra al-Abbasi di Yaman menggegerkan internet.

Pasalnya, bayi laki-laki yang lahir pada Maret 2022 itu dikaitkan dengan kemunculan ‘Dajjal’ sebagaimana kepercayaan umat muslim.

Berbanding terbalik dari asumsi tersebut, si bayi bahkan tak bisa bertahan hidup lebih dari sehari pasca dilahirkan. Bayi tersebut meninggal usai tujuh jam lahir ke dunia.

Sebagai informasi, fenomena itu merupakan cacat medis langka yang disebut dengan cyclopia atau synophthalmia.

Satu dari 100.000 kelahiran bayi di dunia alami fenomena bersangkutan. Sangking langkanya, sejumlah media asing melaporkan hanya ada enam kasus dalam lima abad terakhir di seantero dunia.

Bayi yang membuat geger itu lahir di rumah sakit Kegubernuran Al Bayda, Yaman Tengah. “Ini adalah kasus yang sangat langka yang dikenal dalam mitologi Yunani,” kata jurnalis Yaman , Zarai, dilansir dari Gulf News, Minggu, 8 Januari 2023.

Serba-serbi Cyclopia

Cyclopia merupakan kecacatan pada bayi yang berkembang antara hari ke-18 dan 28 kehamilan. Kondisi ini biasanya diakibatkan oleh malformasi otak bayi yang parah.

Tak hanya manusia, Cyclopia juga dapat terjadi pada hewan. Kondisi ini dapat mempengaruhi struktur kepala dan wajah pada bayi .

Adapun tanda-tanda dari bayi pengidap cyclopia yang paling kentara terlihat ialah mata tunggal atau mata yang terbagi dalam satu rongga.

Adapun tanda-tanda penyakit ini pada bayi adalah, tidak adanya hidung, muncul belalai (struktur seperti hidung) di atas mata, microcephaly atau kepala kecil yang tidak normal, celah bibir atau langit-langit, serta kelainan gigi dan hormonal.

Selain itu, si bayi pengidap juga akan mengalami gula darah rendah (hipoglikemia), memiliki kadar natrium rendah dalam darah, serta kelainan kelamin.

Pada faktanya, kelahiran bayi bermata satu juga pernah terjadi di Indonesia, yaitu di kabupaten madina, Sumatera Utara pada 2018.

Bayi tersebut terlahir dengan hanya satu mata dan tidak memiliki hidung. Dengan kondisi yang kian memburuk setelah dilahirkan, sebagaimana bayi mata satu di Yaman , bayi tersebut juga meninggal dunia setelah beberapa jam lahir ke dunia. ***

error: Content is protected !!