Curiga Jadi Korban Love Bombing? Kenali 8 Tanda Perilakunya..

wartabeta.com Love bombing adalah perilaku manipulatif yang bisa dilakukan pasangan untuk menguasai kita.

Awalnya, love bombing membuat kita merasa begitu dicintai dan mendapatkan pasangan terbaik.

Kita dihujani cinta, perhatian dan hadiah sampai akhirnya benar-benar terlena.

Pelaku love bombing memanipulasi dengan memberikan semua validasi dan penegasan yang kita nantikan selama ini.

Namun hubungan “ideal” itu berubah menjadi sesuatu yang tidak terkendali sehingga kita akhirnya menjadi pribadi yang tergantung dan merasa wajib patuh dengannya.

Tanda-tanda perilaku love bombing, awas jadi korbannya

Love bombing bisa dilakukan oleh semua orang, dengan tujuan yang berbeda-beda.

Jalinan asmara yang kita jalani berubah menjadi toxic relationship ketika pasangan berubah menjadi kasar, mengendalikan, manipulatif, atau kodependen.

Tindakan kasar yang dilakukan tak hanya kekerasan fisik namun akan membuat kita merasa bersalah sehingga harus bersedia berkorban dan memberikan perhatian yang sama.

Sayangnya, kita seringkali sulit mendeteksi perilaku love bombing saat sedang menjadi korbannya.

Perasaan bahagia yang kita rasakan begitu intens sehingga sulit untuk berpikir jernih.

Padahal, dikutip dari Insider, ada beberapa perilaku yang mencerminkan kita sedang menjadi korban love bombing.

Apa saja?

Pasangan memberikan pujian berlebihan

Kita semua menyukai pujian namun perlu bersikap hati-hari ketika pasangan memberikanya secara berlebihan.

Kyle Zrenchik, PhD, terapis keluarga dan pernikahan berlisensi di AS mengatakan pelaku love bombing melakukannya agar harga diri dan self value kita sangat terhubung dengan pendapatnya.

Ingin menghabiskan waktu bersama tanpa henti

Pasangan yang ingin selalu menghabiskan waktu bersama dengan kita sehingga mengabaikan tanggung jawab dan komitmen lainnya juga harus dicurigai.

Kita perlu waspada menjadi korban love bombing jika merasa kehilangan waktu bersama sahabat dan me time karena terlalu sering bersama pasangan.

Memberikan hadiah mahal yang berlebihan

“Ketika pasangan Anda memberi Anda hadiah yang terasa berlebihan, dan memberi tahu Anda betapa mahalnya hadiah itu, itu adalah perilaku love bombing,” kata Kaylin Zabienski, terapis hubungan di AS.

Tindakan itu bisa menjadi cara untuk membuat kita merasa bersalah sehingga terus menjalin hubungan dengan mereka.

Kita akan merasa berkewajiban untuk memberikan timbal balik karena telah menerima hadiah yang begitu mahal.

Terlalu cepat mengenalkan kita dengan keluarganya

Pasangan yang mengenalkan kita dengan keluarganya terlalu cepat bisa jadi sedang melakukan love bombing.

Mereka berusaha mengubah jenis hubungan asmara tersebut dengan cepat, tanpa peduli pendapat pribadi kita.

“Mungkin mereka memiliki serangkaian pengabaian yang berasal dari masa kanak-kanak. Mungkin mereka memiliki hubungan yang kasar dan ditawan, jadi mereka mengabadikan hal yang sama dan mencoba menahan seseorang setelah mereka ketagihan,” kata Zrenchik.

Mengubah dirinya menjadi seperti yang kita inginkan

Jangan terlalu senang jika pasangan bersikap “patuh” dan mengubah dirinya menjadi sesuai tipe ideal kita.

Dalam beberapa kasus, pelaku love bombing sengaja mencoba berubah menjadi pasangan sempurna dengan selalu menyetujui semua yang kita katakan atau inginkan, kata Zabienski.

Kuncinya adalah bahwa perilaku ini bukanlah siapa mereka sebenarnya atau pribadinya saat pertama kali berjumpa.

Mengatakan “I love you” terlalu cepat

Biasanya butuh waktu sampai pasangan cukup nyaman untuk mengatakan “I love you”.

Namun pelaku love bombing bisa mengatakannya hanya dalam hitungan hari saja setelah kencan pertama.

“Jika terasa terlalu cepat dan bahkan terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, mungkin memang begitu,” kata Zabienski.

Menurutnya, cinta cenderung membutuhkan waktu untuk berkembang dan tidak didasarkan pada persepsi orang lain tentang pribadi kita yang sempurna, jelas Zabienski.

Membuat kita merasa bersalah ketika menarik jarak

Pelaku love bombing akan marah dan membuat pasangannya merasa bersalah ketika kita menarik jarak.

Padahal kita hanya berusaha menarik batasan agar hubungan lebih terkendali, misalnya menyatakan belum siap diajak ke jenjang lebih serius.

Terlalu cepat berkomitmen

Pasangan yang berkomitmen terlalu cepat hanya setelah satu kali kencan adalah tanda bahaya yang wajib diperhatikan.

Zrenchik mengatakan, ini menunjukkan orang tersebut tidak memiliki kesadaran akan batasan kita atau dirinya sendiri.

Perilaku ini juga menunjukkan mereka terlalu sering berkomitmen dalam hidupnya.

error: Content is protected !!